Ketika anak bereaksi terhadap bermacam-macam situasi dengan perilaku menyimpang, responlah dengan proaktif, dan dengan kasih sayang tentunya.
[Perilaku 'nakal' anak yang sebetulnya tidak!]
1. Anak belum bisa mengontrol gerakan mereka.
Pernahkah Anda berkata pada si kecil, "jangan lempar!", tapi ia justru melemparnya?
Sebuah hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa area otak yang mengontrol regulasi diri masih belum berkembang ketika anak lahir dan baru akan berkembang sempurna ketika mereka menginjak usia remaja. Karena itu, sebetulnya perkembangan regulasi diri merupakan proses yang panjang dan lamban.
Banyak orangtua yang merasa perkembangan anaknya lebih cepat dan bisa melakukan ini itu sejak dini, daripada apa yang dipaparkan oleh para spesialis anak. Misalnya, ada orangtua yang merasa bahwa anak di bawah usia 3 tahun sudah harus mampu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang dilarang. Padahal, anak-anak tidak mempunyai ketrampilan ini sebelum mereka menginjak usia 3,5-4 tahun.
Yang bisa Anda lakukan: Mengingatkan kembali diri Anda bahwa anak tidak selalu bisa mengontrol gerakan tubuhnya (karena otak belum berkembang dengan sempurna), dan bereaksilah dengan lebih lembut terhadap perilakunya.
2. Anak distimulasi berlebihan
Banyak drama saat Anda mengajak anak ke supermarket, ke mal, ke rumah teman di mana ia rewel, nangis guling-guling, melakukan tantrum, dll. Sebetulnya, jadwal yang padat, stimulasi berlebih, dan kelelahan, adalah simbol kehidupan keluarga modern.
Kim John Payne, penulis dari buku "Simplicity Parenting", berpendapat bahwa anak-anak mengalami apa yang disebut sebagai "reaksi stres yang menumpuk" karena terlalu banyak fasilitas, aktivitas, pilihan, dan mainan. Ia berpendapat bahwa anak-anak membutuhkan banyak "waktu bosan" untuk menyeimbangi waktu sibuk mereka.
Yang bisa Anda lakukan: kurangi waktu sibuk Anda dengan meningkatkan waktu istirahat, jam tenang, waktu bermain, maka perilaku anak akan membaik secara dramatis.
3. Kebutuhan fisik anak berdampak ke suasana hatinya
Anda pasti pernah mengalaminya, ketika Anda lapar atau kurang tidur? Begitupun anak Anda. Tidak heran anak rewel, jika kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi, seperti lelah, lapar, haus, atau tidak enak badan.
Ketika anak terlalu lelah, kemampuan mereka untuk mengendalikan emosi dan tingkah laku akan kacau. Banyak orangtua juga mengakui bahwa anak-anak mereka jadi lebih tidak terkontrol sebelum jam makan, saat mereka tidak enak tidur, atau tidak enak badan.
Yang bisa Anda lakukan: Anak tidak selalu bisa berkomunikasi untuk menyampaikan apa yang mereka butuhkan. Buatlah aktivitas keseharian yang teratur seperti jam tidur dan jam makan, dan antisipasi jika ada hal-hal yang akan mengacaukan jadwal mereka.
4. Mereka tidak bisa mengendalikan perasaan yang besar.
Orang dewasa sudah diajari untuk bisa bersikap tenang dan menyembunyikan perasaan, dengan mengalihkan perhatian, memendam, dan sebagainya. Tapi anak-anak belum bisa melakukannya.
Yang bisa Anda lakukan: Ketika anak memperlihatkan perasaan yang kuat seperti berteriak dan menangis, berikan mereka waktu untuk meluapkan emosi tersebut, bukan dengan bereaksi berlebihan atau bahkan menghukumnya.
5. Anak butuh sarana untuk meluapkan energinya
Ucapan langganan Anda: "Duduk diam!", "Jangan lari-lari.", "Berhenti lompat di sofa!" tidak pernah ada basinya, bukan?
Tapi anak-anak butuh lingkungan untuk meluapkan energinya. Mereka perlu meluangkan waktu di luar rumah, naik skuter, naik sepeda, bergulat, merayap, bergelayutan, dan berlarian.
Yang bisa Anda lakukan: Tidak perlu bilang, "kamu nakal ya" saat anak bersikap enerjik. Mungkin lebih baik langsung mengajak mereka keluar ke taman bermain, atau jalan santai di sekitar kompleks rumah Anda.
6. Anak suka menantang dan menguji keadaan
Selalu saja ada argumen di dalam rumah ketika sedang hujan dan sedang adem. Anak ngotot untuk keluar rumah pakai celana pendek, meskipun Anda memintanya memakai celana panjang. Anak-anak suka melakukan segala sesuatunya sendiri, dan mereka berinisiatif untuk menjalankan rencana mereka sendiri.
Yang bisa Anda lakukan: meskipun menyebalkan ketika anak mencoba memotong rambut mereka sendiri, atau membuat benteng-bentengan dari tumpukan selimut dan seprei yang barusan Anda cuci bersih, sebetulnya mereka bertingkah sangat normal, yaitu menjalankan rencana mereka sendiri, membuat keputusan sendiri, dan bersiap untuk tumbuh menjadi individu yang mandiri. Kuncinya adalah memaklumi fase ini dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mencoba.
7. Anak pun bisa tersandung oleh keistimewaannya sendiri
Kekuatan terbesar kita bisa menjadi kelemahan kita juga. Begitu pula dengan anak-anak. Ada yang sangat berprestasi di sekolah, tapi sulit mengendalikan diri saat mengalami kesulitan (misalnya: berteriak kesal ketika ada yang salah dikerjakan). Ada anak yang sangat berhati-hati dan waspada, tapi sangat canggung untuk mencoba aktivitas baru (misalnya: menolak untuk pergi les balet). Ada yang sangat spontan dan penuh dengan ide kreatif, tapi kurang bisa merapikan diri (misalnya: kamar anak yang selalu berantakan dan penuh dengan mainan).
Yang bisa Anda lakukan: Untuk membantu diri Anda memaklumi tingkah lakunya, pahamilah bahwa perilaku anak yang kelihatannya nakal, bisa jadi merupakan kekuatan mereka.
8. Anak perlu bermain
Perilaku 'nakal' anak, seperti mencorat-coret wajahnya sendiri, meminta Anda untuk mengejarnya kesana kemari saat akan dipakaikan baju, ngotot pakai sepatu ayah saat bersiap-siap keluar rumah, sebetulnya adalah "permintaan" anak untuk bermain bersamanya.
Anak-anak suka bertingkah konyol dan bodoh. Anak-anak menikmati tawa, kejutan, dan gairah yang mereka timbulkan dari tingkah lakunya.
Yang bisa Anda lakukan: Sulit bagi Anda untuk terus menemani anak bermain, karena pasti akan menyita waktu dan agenda Anda. Tidak heran tingkah laku anak terlihat seperti kenakalan bagi Anda. Tapi sebetulnya, semakin banyak Anda meluangkan waktu untuk bermain dengannya, ia akan berhenti "memohon" pada Anda untuk bermain bersamanya.
9. Anak sangat peka dan bertindak tergantung dari suasana hati Anda
Banyak hasil penelitian yang memaparkan bahwa hanya butuh sekejap untuk memindahkan perasaan - seperti kegembiraan dan entusiasme, begitu juga dengan kesedihan, ketakutan, dan kemarahan - dari satu orang ke orang lain, bahkan tanpa kita sadari. Ini berarti saat Anda stres, bete, atau frustasi, anak Anda akan meresapnya dengan cepat. Ketika Anda bahagia dan damai, ini pun akan diterima oleh anak.
Yang bisa Anda lakukan: Berpikirlah dua kali sebelum Anda bertindak kelewat batas, apalagi saat bertengkar, atau membentak anak. Tanpa Anda sadari, anak akan meniru nada bicara dan perilaku Anda juga.
10. Anak berjuang untuk merespon ketidakkonsistenan Anda
Hari ini Anda membelikan coklat untuk si kecil. Besoknya, Anda bilang, "Nggak boleh makan coklat. Nanti kamu ga makan nasi lagi." Tidak heran kalau anak jadi melakukan tantrum dan merengek. Ketika Anda bersikap tidak konsisten terhadap peraturan-peraturan yang telah Anda buat sendiri, dengan sendirinya, Andalah yang membuat anak frustasi, merengek, menangis, dan berteriak.
Yang bisa Anda lakukan: Anak ingin tahu dan perlu tahu apa yang diharapkan darinya. Sebisa mungkin, bersikaplah konsisten terhadap aturan, rutinitas, dan batasan yang telah Anda tentukan, dan niscaya perilaku anak pun akan semakin membaik.









